Adab kepada Guru, Jalan Santri Meraih Berkah Ilmu
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama menegaskan pentingnya adab santri kepada guru sebagai kunci utama meraih keberkahan ilmu. Pesan itu disampaikan Wakil Rais Syuriyah, KH Ahmad Qusyairi, saat mengisi pengajian kitab Adabul Alim wal Muta’allim karya KH M Hasyim Asy'ari, awal Juli 2022.
Dalam pengajian tersebut ditegaskan bahwa seorang murid tidak cukup hanya rajin belajar demi memperoleh ilmu yang banyak. Lebih dari itu, ia harus menjaga tata krama terhadap guru yang bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing jiwa. Menurut Kiai Qusyairi, adab sederhana namun kerap diabaikan adalah cara memberi dan menerima sesuatu dari guru. Seorang murid dianjurkan menggunakan tangan kanan, atau bila memungkinkan dengan kedua tangan sebagai bentuk penghormatan. Apabila menyerahkan kitab atau lembaran yang akan dibaca, hendaknya dibukakan terlebih dahulu pada halaman yang dimaksud agar guru tidak perlu mencarinya sendiri, kecuali atas kehendak beliau.
Ia menegaskan bahwa santri sebaiknya tidak merepotkan guru, bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele. Saat memberikan sesuatu, murid dianjurkan mendekat agar guru tidak perlu memanjangkan tangan untuk meraihnya. Tindakan melempar barang kepada guru jelas bertentangan dengan akhlak santri. Meski demikian, sikap hormat juga tidak boleh berlebihan. Ketika mendekat, tidak perlu sampai merangkak, dan saat duduk bersama guru tidak terlalu dekat hingga terkesan seperti teman sebaya.
Lebih lanjut, murid tidak diperkenankan meletakkan anggota tubuh atau barang di atas perlengkapan yang biasa digunakan guru, seperti tikar, bantal, atau sajadah. Santri dianjurkan menyiapkan kebutuhan guru agar dapat langsung digunakan, termasuk merapikan sandal dan menggelar sajadah sebelum dipakai. Dalam hal teknis pun adab harus dijaga, seperti ketika menyerahkan pisau dengan memegang bagian tajam dan memberikan gagangnya kepada guru.
Adab juga berlaku ketika berjalan bersama guru. Pada malam hari, murid dianjurkan berjalan di depan untuk memastikan keamanan, sedangkan pada siang hari berjalan di belakang sebagai bentuk penghormatan. Murid hendaknya peka terhadap kondisi sekitar, melindungi guru dari bahaya maupun desakan kerumunan. Tidak berjalan sejajar kecuali ada keperluan, serta menjaga agar tidak bersentuhan tanpa kebutuhan.
Kiai Qusyairi menekankan bahwa seluruh sikap tersebut harus dilandasi niat ikhlas karena Allah SWT dan demi memuliakan guru. Dengan demikian, guru akan ridha, dan dari ridha itulah ilmu menjadi berkah. Dalam tradisi pesantren, adab bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dalam perjalanan menuntut ilmu agar manfaatnya terus mengalir sepanjang hayat.