Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Zulfa Mustofa, mendorong para santri agar tetap aktif berorganisasi setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Menurutnya, aktivitas organisasi merupakan bagian penting dalam mengamalkan ilmu sekaligus membentuk tanggung jawab sosial santri di tengah masyarakat.
Dalam tausiyahnya, Kiai Zulfa menegaskan bahwa santri harus tetap mengaji di mana pun dan sampai kapan pun. Setelah lulus dari pesantren, santri diharapkan terus terlibat aktif dalam organisasi, khususnya di badan otonom NU seperti Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Gerakan Pemuda Ansor, Fatayat Nahdlatul Ulama, Muslimat Nahdlatul Ulama, maupun Nahdlatul Ulama secara umum.
Beliau juga mengulas keteladanan para pendiri NU, yakni KH Ma’shum Ahmad, KH Baidlowi Abdul Aziz, dan KH Kholil Masyhuri. Menurutnya, para ulama tersebut tidak hanya mendalam dalam fiqhus syariah, tetapi juga memahami fiqhul jam’iyah, yakni tata kelola organisasi yang tertib dan bertanggung jawab. Ulama ideal, tegasnya, adalah sosok yang mampu memadukan keilmuan syariat dengan kecakapan berorganisasi.
Sejalan dengan itu, para tokoh sepakat bahwa santri tidak hanya dituntut alim dalam ilmu agama, tetapi juga aktif berorganisasi, berakhlak, serta konsisten menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh tidak berhenti di bangku pesantren, melainkan terus hidup dan memberi manfaat di tengah masyarakat.